• 0822-4138-6283
  • tkabakricakkidul@gmail.com
  • PAUD Kricak Kidul, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta.
Karya Ibu Guru
Kerinduan akan Pahlawanku

Kerinduan akan Pahlawanku

Oleh : Bunda Martini, S. Pd., M. Psi.

Suasana pagi begitu sepi dan dingin. Angin diam, seperti bertahan oleh suara gundah hatiku yang mendalam. Tak terdengar suara kokok ayam Jantan dari kandang seperti biasa. Begitu sepi. Kubiarkan ingatan menerawang cerita lalu.

Terong Bantul, Jum’at Pahing Tahun 1928. Allah Subhanahu Wa Ta’ala, mengizinkan sosok beliau penyayang, gigih dan pekerja keras hadir di dunia ini. Beliau ayahku, sosok yang selalu mendorongku untuk jadi gadis yang kuat, bermanfaat bagi orang lain dan bertanggungjawab. Ayahku, lahir dari keluarga miskin, kakekku sudah tiada sewaktu Ayah masih usia anak-anak. Sehingga nenek harus banting tulang menghidupi lima anaknya. Ayah anak nomor empat yang mempunyai hobi mencari rumput untuk kambing dan sapi. Tetapi, nenek tidak mempunyai kambing apalagi sapi. Akhirnya karena hobi itulah Ayah tinggal ikut saudara dari nenek di Ngleri, Playen, Gunung Kidul.

Di Ngleri, Mbah khasan orang yang sudah membesarkan ayahku tak lain adalah kakek buyutku. Kakek buyut yang mendidik dan menyayanginya sampai tumbuh menjadi lelaki pekerja keras dan penyayang. Hingga seperti itulah beliau mendidikku. Akhirnya beliau berjumpa Perempuan yang beliau cintai, salah satu cucu dari Mbah Khasan yaitu ibuku, beliau berdua memutuskan pacaran dan akhirnya menikah karena terlibat cinta lokasi, menurutku.

Aku bersyukur punya beliau berdua, dua paduan hebat yang dapat membentukku hingga menjadi seperti saat ini, padahal beliau berdua tidak pernah mengenyam sekolah sama sekali karena keadaan. Bahu membahu dalam mendidik kami, saling melengkapi, itulah yang beliau berdua perlihatkan dan ajarkan kepadaku.

Suatu Ketika saat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas satu, ibu pagi-pagi sudah berangkat ke pasar untuk jualan gula jawa, hingga tak bisa menyiapkan sarapan dan mendandani aku yang berangkat sekolah. Aku berusaha tanpa bantuan ibu. Aku bingung karena terbiasa dibantu ibu dalam segala hal, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku caraku mengikat rambut? Bagaimana kami menyiapkan seragam sekolah? Saat itu, rambutku panjang dan lebat. Akhirnya Ayahlah yang menggantikan posisi Ibu hari itu, beliau mengikat rambutku, dimodel kuncir kuda, rambut dijadikan satu ke belakang dan cukup tinggi mirip seperti ekor kuda. Tapi lucunya, ayah mengikat rambutku tanpa bantuan sisir, alhasil rambutnya berantakan tak rapi sana sini.

“Kok  ngene to, pak?” aku menggrutu marah.

“Wes ra popo?”

“Ga usah dikuncir wes!” akhirnya aku ngambek.

Aku berlari ke kakang (sebutan kakak laki-laki jawa) dan minta disisir ulang. Dengan susah payah kakakku membenahi rambutku. Sejak duduk di SD aku terbiasa berangkat sekolah dengan rambut yang dikuncir rapi. Ibu tidak membiasakan rambutku diurai, biar tidak gerah dan lepek. Rambutku selalu panjang sejak kecil, Ayah dan Ibu tak mengizinkan aku potong rambut. Beliau suka anak perempuan satu-satunya memiliki rambut panjang.

Ada lagi cerita saat aku jatuh sakit, badanku demam, ibu khawatir sekali dengan dugaanku hingga tidak berjualan gula ke pasar. Ayah dan Ibu bermaksud membawaku ke rumah Mbah Lurah yang dapat mengobatiku.

Selama perjalanan ke rumah Mbah Lurah aku digendhong Ayah. Setelah sampai di rumah Mbah Lurah ternyata badanku langsung dingin. Mungkin ini yang dinamakan sugesti tinggi. Belum diobati tapi sudah sembuh. Alhamdulillah, lanjut Ibuku. Sesampai nya di rumah Mbah Lurah, Ayah, Ibu dan Aku langsung disambut oleh Bu Lurah di dapur. Ayah dan Ibuku sudah terbiasa di sana karena memang ayah ibuku salah satu buruh taninya.

Ayahku seorang buruh tani lepas di sawah milik pensiunan lurah Ngleri dekat dengan tempat kami. Saat itu Ayah memang selalu mendapatkan upah walaupun tak seberapa. Walaupun Ayah tidak mempunyai pendapatan pasti dan selalu pas-pasan tetapi Ayah selalu berjuang memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan menjadi penjual kayu bakar, dan kuli gendong pedagang pasar seminggu sekali. Alhamdulillah dengan begitu kami semua dapat makan dan dari penghasilan itu juga dapat membenahi rumah kami yang amat sederhana.

Saat itu Ayah pernah bilang kepadaku dan kakak-kakakku, bahwa Ayah akan selalu berusaha memenuhi kebutuhan dan keinginan kami asal kami bisa menjadi anak yang baik, jujur, selalu rukun, tanggung jawab dan bermanfaat bagi orang lain.

Banyak hal yang kami lewati bersama dan tidak akan pernah cukup kertas berlembar-lembar menampungnya. Cerita dimana aku merayu Ayah agar membelikanku sepatu baru saat panen, merengek meminta baju baru saat menjelang lebaran, merengek meminta ijin melanjutkan SLTP kala itu. Semua cerita itu membekas di hatiku.

Kali ini aku ingin menuliskan sepucuk surat untuk Ayah, betapa aku terpukulnya saat Ayah meninggalkan kami selamanya.

Assalamu’alaikum, Ayah.

Andai Ayah tahu, kami begitu rindu sekali dengan Ayah. Siang itu semua cerita ini berakhir, 25 September 2021 pukul 12.05 WIB. Ayah Kembali pulang, beristirahat untuk selamanya. Kami tidak percaya, kami tidak siap, kami kehilangan, tapi begitu kenyataannya. Sampai cerita ini ditulis, air mata ini belum kering. Cerita ini seharusnya belum lalu. Ayah, sejauh apapun Ayah pergi, Ayah masih ada di hatiku, di hati kami. Kami bisa menjaga ibu, kami bisa menjaga diri.

Ayah…

”Kepergianmu membuatku mengerti bahwa rindu paling mennyakitkan adalah merindukan seseorang yang telah tiada. Namun, kepergianmu mengajarkan bahwa, Allah Subhanahu Wa Ta’aala selalu ada untuk mendengarkan segala do’a dan harapan.” Ayah, kami rindu, kami mencintai, kami menyayangi Ayah, persis sama dengan saat Ayah masih ada di sini bersama kami. Lihat aku dari jauh, aku akan menjadi kuat seperti harapan Ayah, jalanku masih jauh dan engkau akan selau di sini, di hatiku di ruagan nomor satu, Ayah tidak perlu khawatir, you will always be my first my love.

Dari anakmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *